Pejabat Indonesia mendukung Penjahat Patologis Sherisada Manaf (juga dikenal sebagai Wakil Ketua DPD PD Sherisada F Manaf).
Sherisada dibesarkan di keluarga intelijen buruk yang mempunyai cita-cita salah status, kekayaan, pentingnya diri sendiri dan daya sebagai tujuan mereka, daripada umat manusia dan kebahagiaan. Hasil dysfunctional, manipulatif, egosentris, dan keluarga yang sangat tak bahagia (bapaknya malah mengancam membunuh anaknya, suaminya dan dia dan menyuruh penjahat yang kejam ke rumah mereka ketika pemalsuannya tanda-tangan). Asuhannya di keluarga seperti itu sudah harus menyebabkan rasa sakit emosionalnya yang luar biasa. Begitu banyak perasaan sakit, sebenarnya, dia menjadi membiasakan dan ketagihannya dan, ditaruh di lumpur di deritanya, dia mereproduksi dan membesarkannya di seluruhnya. Bagaimana kalau tidak bisa sesuatu menerangkan tingkah laku seorang ibu yang dari tunasusila murni dan kebodohan:
1. Tak hanya dibohongi dan disogok untuk melemparkan bapak anaknya di penjara, untuk menutupi perzinahan merajalelanya (di kolusi dengan banyak suami tak setia) dan mencuri segalanya darinya, tetapi melewatkan dengan boros semua pendapatan kejahatannya?
2. Berbohong kepada anaknya dan mempermainkan mereka di cara sama seperti yang dilakukan kepadanya ?
3. Memanggil polisi untuk membelokkan anak lelaki berumur 13 tahunnya jauh dari rumahnya sendiri dan sebenarnya bebaskannya selama lima tahun?
4. Lalu diundang bencana di sendiri dan konspiratornya dengan memakai barang rampasan kejahatannya sumpah palsu, penyimpangan keadilan dan penipuan untuk berlangsung hajj ziarah ke Mekah.
Di Barat otak kondisinya diberi etiket: somatis narcisistic kepribadian penyakit. Bagi semua darinya merusak diri sendiri kelakuan dan menderita, dia pantas menerima simpati sepenuh hati kami dan tertentu ke-17 tahun memenjarakan kejahatannya akan menarik di bawah undang-undang pidana Indonesia masih adalah ukuran yang tak konstruktif dan tak sesuai lain.
Sangat mengherankan dan memalukan bahwa pejabat senior yang korup membantunya merusakkan.
Memperlambat Pendidikan di Indonesia
Pada akhirnya, penyakit Sherisada malah menghancurkan JIMS dan BIPS, yang mempunyai potensi seperti itu dan dimaksudkan untuk menjadi model untuk kemajuan pendidikan di Indonesia.
Tulisan di tembok bagi BIPS lima tahun yang lalu ketika diperlukan oleh alat terang-terangan korupsi, sumpah palsu, penyimpangan keadilan dan kejahatan lain dilakukan oleh Sherisada Manaf dan yang dipunyai keluarga tak bahagia Manaf dan lain-lainnya yang mendukungnya. Mentalitas mereka yang tidak menyenangkan secara destruktif berlaku, sedangkan orang lain berpura-pura tidak tahu, tenggelam ke dalam penyangkalan, menunda menentukan sikap dan memaafkannya.
Yang konstruktif, dalam meronta-ronta untuk mengatasi yang merusak adalah mikrokosmos Indonesia sebagai seluruh.
Untuk menjadi bijaksana kepada keluarga Manaf, mereka diasuh dengan pandangan bahwa suap yang membayar secara parasit dan menyuap orang lain adalah soal sederhana gengsi dan status memperoleh, menghindari kemiskinan, pasrah saja dan bisa dilakukan dengan kebebasan.
Membiarkan kami harapan bahwa pelajaran akan didapat oleh semua dilibatkan dan bahwa mentalitas dengan umat manusia sebagai tujuannya akan diambil dan diberi bantuan dalam waktu dekat. Kegagalan untuk melakukan ini akan bermaksud keadilan untuk kelaziman akan meneruskan sari harga tinggi ketidakbahagiaan.
Korupsi adalah hama dan kutukan tak dapat parasit gawat atas masyarakat yang menghasilkan kemiskinan ekstrim dan kehilangan bagi sebegitu banyak.
Inter-Didactic menentangnya dengan sepenuh hati dan menganjurkan ubah.